Masjid Agung Sang Ciptarasa memiliki bangunan unik yang mengambil perpaduan antara Jawa dan Hindu Majapahit, Sunan Gunung Jati memberikan tugas kepada Sunan Kalijaga dan Raden Sepat untuk menjadi arsitektur dalam pendirian masjid. Lima ratus pekerja dari Majapahit, Demak, dan Cirebon, dikerahkan untuk menyelasaikan pembangunan yang konon hanya watu satu semalam.
Bermula ketika menjelang sholat subuh, masjid agung sang ciptarasa selalu diganggu oleh Aji Menjangan Wulung yang datang menebarkan petaka, beberapa muazin yang mencoba mengumandangkan adzan tewas dihajar olehnya. Untuk mengusir Aji Menjangan Wulung Sunan Gunung Jati memerintahkan dua orang muazin untuk adzan lalu dihajar lagi, sampai sunan gunung jati memerintahkan tujuh orang muazin mengumandangkan adzan secara bersama dan semenjak saat itu Aji Menjangan Wulung tidak pernah menggangu ibadah para jamaah Masjid Sang Ciptara. Sebagai tanda tibanya waktu sholat lazimnya dilantunkan oleh satu orang muadzin. Namun di masjid agung sang ciptarasa adzan dilantunkan oleh 7 orang sekaligus. Itulah mengapa disebut adzan pitu (pitu = tujuh).
Masjid agung sang ciptarasa dulunya bernama masjid pakung wati yang dibangunkan oleh sunan gunung jati dibantu oleh 8 wali nya, jadi semua wali berkontribusi untuk membangun masjid agung.
Masjid agung sang ciptarasa memiliki bangunan yang agung, sengaja dibangun untuk dipergunakan umat untuk beribadah kepada sang maha ciptarasa Allah SWT. Hal ini tercermin dalam tiga kata yang mewakili nama masjid, yaitu "Sang" yang berarti keagungan, "Cipta" yang bermakna dibangun, dan "Rasa" yang berarti digunakan.
Ketika masuk dari gerbang, langsung bisa melihat Masjid Agung Sang Ciptara meliki bangunan utama dari batu dan berdinding merah, dengan perluasan teras kesegala sisinya.
Ketika masuk ke masjid agung sang ciptarasa samping kanan (utara) masjid terdapat sumur zam-zam atau banyu cis konon katanya air yang ada di sumur itu bisa dimunum dan bisa mengabulkan permohonan yang kita mau.
Untuk menuju ruangan utama masjid terdapat sembilan pintu yang berarti wali songo, ketika masuk ke ruangan masjid utama yaitu ada mihrob terdapat ukiran bunga teratai berasal dari agama Budha, selain itu juga dibagian ada tiga ubin yang memiliki arti khusus yang melambangkan tiga ajaran pokok agama yaitu iman, islam, dan ihsan. Ubin tersebut dipasang oleh Sunan Gunung Jati, Sunan Bonang, dan Sunan Kalijaga pada awal berdirinya masjid.
Masjid agung sang ciptarasa memiliki sokoguru tidak hanya empat tapi dua belas. Semua tingang tersebut ternuat dari kayu jati yang diameter sekitar 60cm dan tinggi mencapai 14 meter. Mengingat usia masjid sudah sangat tua seluruh sokoguru di dalam masjid sudah ditopang dengan besi baja untuk mengurangi beban masing-masing pilarnya.
Di Masjid Agung Sang Ciptarasa ada tempat sholat khusus keluarga kerajaan atau disebut namanya maksurah yaitu yang dipagar dengan pagar kayu berukir yang terbuat dari kayu jati. Ada dua maksurah yaitu satu maksurah di shaf paling depan sebalah kanan mihrab dan mimbar yaitu untuk Sultan dan keluarga Keraton Kesepuhan. seta satu maksurah ada di shaf paling belakang diperuntukan bagi Sultan dan keluarga Keraton Kanoman.

masih banyak kurang perbaiki seluruhnya!
ReplyDelete