Atapnya cukup pendek, dengan tinggi hanya sekitar dua meter.Di teras tersebut terdapat perpusatakaan buku-buku lawas serta dan sumur-sumur peninggalan wali yang masih digunakan.
Ada yang unik di balik banyaknya tiang-tiang di selasar masjid tersebut.Tiang ini disambung tanpa menggunakan paku.Alias dengan sistem knock down, yang menyambungkan pasak-pasak.Untuk masuk ke dalam area masjid, temboknya cukup tertutup.Tebok ini juga tersusun dari bata merah.Pintu masuk ruangan dalam cukup unik, ada sembilan pintu namun tingginya tidak sama.
"Pintu ada sembilan melambangkan wali songo, dan ada yang pendek satu meter, ada yang dua meter tingginya. Itu buat masuk siapa saja, mau sultan mau wali, atau rakyat biasa tidak dibedakan dan tetap harus merunduk," ujar Mahfud, pemandu wisata kami hari itu.Saat masuk ke dalam, barulah atap begitu menjulang tinggi.
Tiang-tiang penyangga utama dari kayu jati, disebut saka guru, masih berdiri kokoh tanpa renovasi.Ada area shalat khusus keluarga keraton, dinamakan kramba.Kramba terletak di bagian depan dan belakang masjid.Begitu unik arsitektur masjid ini.
No comments:
Post a Comment