Masjid Agung Sang Cipta Rasa ini baru terasa
pada saat kita masuk kedalam bangunan utama yang merupakan bangunan asli.
Masjid Agung Sang Cipta Rasa memiliki sokoguru tidak hanya empat tetapi
mempunyai dua belas sokoguru. Dua belas sokoguru utama di dalam Masjid Agung
Sang Cipta Rasa sudah ditopang dengan besi baja untuk menjaga keutuhan struktur
kayu bangunan masjid tua ini. Hal tersebut dilakukan sebagai bagian dari upaya
pelestariannya, semua tiang tersebut terbuat dari kayu jati dengan diameter
sekitar 60cm dan tinggi mencapai 14m. Rangkaian rumit saling silang pasangan
kayu kontruksi di dalam masjid ini benar-benar mengingatkan kita ke masa lalu
karena teramat sulit untuk menemukan bangunan baru dengan rancangan yang
serupa. Atap puncak masjid (wuwungan) ditopang oleh sokoguru paling tengah dan
diantara dua sokoguru ini yang menjadi titik tengah bangunan utama sekaligus
menjadi titik berdirinya muazin saat mengumandangkan adzan termasuk adzan pitu
atau dalam bahasa indonesia adalah (tujuh), jadi adzan pitu artinya adzan tujuh
saat shalat jum’at.
Mengingat usia yang
sudah sangat tua, keseluruhan sokoguru masjid ini berdiri di atas umpak batu
kali. Umpak pada tiang-tiang utama berbentuk bulat di bagian serambi berbentuk
kotak. Masjid ini dirawat dengan baik, dari karpetnya di jaga kebersihannya
dengan cara di cuci setiap satu minggu. Banyak masyarakat yang beribadah di
Masjid Agung Sang Cipta Rasa dikarenakan suasananya sangat nyaman dan sejuk.
No comments:
Post a Comment