Monday, 28 January 2019

masjid agung


MASJID AGUNG SANG CIPTA RASA
Kota Cirebon selain dikenal sebagai kota udang karena merupakan penghasilan udang terbesar juga dikenal sebagai kota wali karena awal mula lahirnya walisongo simulai dari kota Cirebon. Tidak heran banyak tempat-tempat bersejarah di kota Cirebon yang peninggalan walisongo. Yaitu seperti keraton kesepuhan, keratin kanoman, masjid agung, dan lain-lain.
Salah satu peninggalan sejarah yang masih terkenal di kota Cirebon dan masih digunakan saat ini adalah masjid agung atau yang biasa dikenal Masjid Agung Sang Cipta Rasa. Nama masjid diambil dari kata “sang” yang bermakna keagungan, “cipta” yang berarti dibangun, dan “rasa” bermakna digunankan.
Masjid agung sang cipta rasa konon katanya dibangun dalam satu malam yang di bantu oleh arsitek Sunan Kalijaga dan Raden Sepat dari Majapahit, karena masjid ini juga dianggap sebagai peninggalan Majapahit.
Masjid agung sang cipta rasa adalah sebuah masjid yang terletak di dalam kompleks keratin kesepuhan, Cirebon, Jawa Barat, Indonesia. Yaitu di Jl. Jagasatu, Kesepuhan, Lemahwungkuk, Kota Cirebon, Jawa Barat 45114.
Masjid agung sang cipta rasa ini salah satu masjid meninggalan wali songo yang termasuk tertua di Indonesia khususnya di Cirebon, yang dibangun oleh salah satu penyebar agama islam di tanah air yaitu Sunan Gunung Jati.
Masjid agung sang cipta rasa terdiri dari dua ruangan, yaitu beranda dan ruangan utama. Untuk menuju ruangan utama terdapat sembilan pintu. Jumlah ini melambangkan walisongo. Masyarakat Cirebon tempo dulu terdiri dari berbagai etnik. Hal ini dapat dilihat dari arsitektur masjid agung yang memadukan gaya Dmak, Majapahit, dan Cirebon.
 Struktur bangunan Masjid Agung Sang Cipta Rasa Cirebon terdiri dari atap, badan masjid, pintu masjid berjumlah sembilan, tiang berjumlah 74 buah dengan 5 soko guru dan 1 soko tatal, mihrab, mimbar, dua maksurah, serambi/selasar yang terdiri dari dua bagian yaitu serambi dalam dan serambi luar, pagar keliling atau benteng dengan gerbang utama berbentuk paduraksa/kori agung, dan bangunan-bangunan lain seperti tempat wudhu, istiwa, pelayonan, serta makam. Terdapat 29 macam motif hias bangunan utama Masjid Agung Sang Cipta Rasa. Ornamen geometris berjumlah 16 motif, yang paling banyak diterapkan yaitu tumpal (untu walang) dan antefiks. Ornamen non-geometris berjumlah 13, yang paling banyak diterapkan yaitu motif floratif (sulur, daun, dan bunga) dengan jenis bunganya adalah teratai.
Bentuk ornamen masjid agung ini membuat pengunjung menarik dan gak percya karna di masjid agung ini tidak ada sedikit pun mencirikan bentuk masjid, masjid agung ini seperti rumah joglo jaman dahulu yang membuat para pengunjung nyaman. Tapi cukup kurang nyaman sedikit karna di sekitar masjid banyak orang istirahat tapi tidur di masjid, dan disi harus nya bagi pengelola harus mempertegaskan bahwa masjid bukan tempat nya tidur tapi untuk beribadah dan membuat peraturan dilarang tidur sekitaran masjid.
Menurut yanto (pengunjung) agak kurang nyaman beribadah karena banyak sekali orang yang mengemis atau meminta-minta disini. Punya nuasa old yang kuat namun sayang sepertinya kurang perawatan.
Untuk tetap membuat pengunjung nyaman harus nya pengelola masjid agung sang cipta rasa membuat peraturan bagi para pengemis agar tidak menggangu bagi para pengunjung, contohnya pengemis cukup hari jumat atau hari–hari tertentu saja.
Bagi pengelola masjid agung harus menyediakan tempat sampah yang cukup besar agar tidak terlalu menumpuk.

No comments:

Post a Comment