MASJID AGUNG SANG
CIPTA RASA
Kota Cirebon
selain dikenal sebagai kota udang karena merupakan penghasilan udang terbesar
juga dikenal sebagai kota wali karena awal mula lahirnya walisongo simulai dari
kota Cirebon. Tidak heran banyak tempat-tempat bersejarah di kota Cirebon yang
peninggalan walisongo. Yaitu seperti keraton kesepuhan, keratin kanoman, masjid
agung, dan lain-lain.
Salah satu
peninggalan sejarah yang masih terkenal di kota Cirebon dan masih digunakan
saat ini adalah masjid agung atau yang biasa dikenal Masjid Agung Sang Cipta
Rasa. Nama masjid diambil dari kata “sang” yang bermakna keagungan, “cipta”
yang berarti dibangun, dan “rasa” bermakna digunankan.
Masjid agung
sang cipta rasa konon katanya dibangun dalam satu malam yang di bantu oleh
arsitek Sunan Kalijaga dan Raden Sepat dari Majapahit, karena masjid ini juga
dianggap sebagai peninggalan Majapahit.
Masjid agung
sang cipta rasa adalah sebuah masjid yang terletak di dalam kompleks keratin
kesepuhan, Cirebon, Jawa Barat, Indonesia. Yaitu di Jl. Jagasatu, Kesepuhan,
Lemahwungkuk, Kota Cirebon, Jawa Barat 45114.
Masjid agung
sang cipta rasa ini salah satu masjid meninggalan wali songo yang termasuk
tertua di Indonesia khususnya di Cirebon, yang dibangun oleh salah satu
penyebar agama islam di tanah air yaitu Sunan Gunung Jati.
Masjid agung
sang cipta rasa terdiri dari dua ruangan, yaitu beranda dan ruangan utama.
Untuk menuju ruangan utama terdapat sembilan pintu. Jumlah ini melambangkan
walisongo. Masyarakat Cirebon tempo dulu terdiri dari berbagai etnik. Hal ini
dapat dilihat dari arsitektur masjid agung yang memadukan gaya Dmak, Majapahit,
dan Cirebon.
Struktur bangunan Masjid Agung Sang Cipta Rasa
Cirebon terdiri dari atap, badan masjid, pintu masjid berjumlah sembilan, tiang
berjumlah 74 buah dengan 5 soko guru dan 1 soko tatal, mihrab, mimbar, dua
maksurah, serambi/selasar yang terdiri dari dua bagian yaitu serambi dalam dan
serambi luar, pagar keliling atau benteng dengan gerbang utama berbentuk
paduraksa/kori agung, dan bangunan-bangunan lain seperti tempat wudhu, istiwa,
pelayonan, serta makam. Terdapat 29 macam motif hias bangunan utama Masjid
Agung Sang Cipta Rasa. Ornamen geometris berjumlah 16 motif, yang paling banyak
diterapkan yaitu tumpal (untu walang) dan antefiks. Ornamen non-geometris
berjumlah 13, yang paling banyak diterapkan yaitu motif floratif (sulur, daun,
dan bunga) dengan jenis bunganya adalah teratai.
Bentuk ornamen
masjid agung ini membuat pengunjung menarik dan gak percya karna di masjid
agung ini tidak ada sedikit pun mencirikan bentuk masjid, masjid agung ini
seperti rumah joglo jaman dahulu yang membuat para pengunjung nyaman. Tapi
cukup kurang nyaman sedikit karna di sekitar masjid banyak orang istirahat tapi
tidur di masjid, dan disi harus nya bagi pengelola harus mempertegaskan bahwa
masjid bukan tempat nya tidur tapi untuk beribadah dan membuat peraturan
dilarang tidur sekitaran masjid.
Menurut
yanto (pengunjung) agak kurang nyaman beribadah karena banyak sekali orang yang
mengemis atau meminta-minta disini. Punya nuasa old yang kuat namun sayang
sepertinya kurang perawatan.
Untuk tetap
membuat pengunjung nyaman harus nya pengelola masjid agung sang cipta rasa
membuat peraturan bagi para pengemis agar tidak menggangu bagi para pengunjung,
contohnya pengemis cukup hari jumat atau hari–hari tertentu saja.
Bagi
pengelola masjid agung harus menyediakan tempat sampah yang cukup besar agar
tidak terlalu menumpuk.
No comments:
Post a Comment